Hijaunya Bumi Bojonegoro

by
1524603_575776225824994_109860974_n
Pertanian Bawang Merah Desa Nduel, Kedung Adem Bojonegoro

Selama ini Bojonegoro lebih didengar karena bannjirnya, tapi lihatlah hamparan hijau yang menyejukkan itu. Bojonegoro kini jauh lebih indah dan Gemah Ripah Loh Jinawi, maka tak heran kalau Bojonegoro punya misi “Bojonegoro Sebagai Lumbung Pangan dan Energi Negeri”. Desa Nduel Kecamatan Kedung Adem misalnya, desa tersebut adalah syurganya bawang merah. Lahan dengan luas tak kurang dari 1000 ha se Kecamatan Kedung Adem ini 90 % dimanfaatkan sebagai lahan pertanian Bawang Merah. Dimana saat panen raya jumlah panen bawang merah mencapai angka 70 ton tiap harinya dan itu berlangsung sampai 30 hari. Bisa dibayangkan kan sebagaimana melimpahnya hasil pertanian bawang merah di Kedung Adem. Perawatan bawang merah bisa dibilang cukup mudah yaitu dengan pengairan yang cukup dan rutin setiap pagi. Usia bawang merah sendiri dari tanam sampai panen memerlukan waktu 60 hari. Panen raya sebanyak 2 kali dalam setahun, selebinya para petani menanami cabe dan terung agar ladang tetap hijau. Karena saat musim kemarau kebutuhan air sangat kurang. Embung-embung tambahan mulai di bangun lagi disana. Demi mencukupi kebutuhan air para petani saat kemarau. Untuk Kedung adem yang daerah dataran rendah para petani menanami padi.

Dan untuk Bojonegoro Selatan tersendiri terkenal dengan hutan jatinya. Hutan jati yang luas yang mengeluarkan aroma khas saat terkena hujan itu benar2 menyejukkan. Selain view yang keren hasil produksi dari Kayu Jati juga beraneka ragam. Menjadi prokuk alat-alat rumah tangga juga kelengkapan-kelengkapan ATK, bahkan yang baru-baru ini terdengar adalah produk kayu berupa Jam tangan. Tuch… kreatif-kreatif kan… Masyarat Bojonegoro memang kreatif dan mencintai keindahan. Semoga saja suatu saat nanti daerah-daerah dengan view yang keren bisa disulap jadi suatu lahan wisata / out bond.

1535639_575771852492098_841637752_n
Hutan Jati dan Pdang rumput Dander – Bojonegoro